Kita Ini Apa, Kar?

sumber :pinterest

Apakah masalah yang datang dalam hubungan yang sudah dijalani selama bertahun-tahun bisa menjamin diselesaikan dengan begitu mudah? Secarakan banyak hal yang sudah mereka lewatkan, apalagi ini sudah masuk kedalam tahunan bukan bulanan lagi.

Sepertinya ada dua kemungkinan, entah itu bisa menyelesaikan masalahnya atau malah menyelesaikan hubungannya? Terutama dalam masalah kepercayaan pada pasangan. 

Sama halnya yang dialami oleh sepasang dua remaja SMA ini, hubungan yang mereka bangun dari bangku SMP sampai kini mereka duduk di bangku terakhir SMA harus mengalami masalah kepercayaan. 

Kara bahtera, sang ketua osis yang sering sibuk organisasi tiap hari harus menjalani hubungan dengan Aluna viora, gadis yang punya banyak waktu karena tidak mengikuti apa-apa. 

Hubungan mereka akhir-akhir ini sedang renggang, jangankan untuk bertemu sekedar komunikasi lewat ponsel pun sudah jarang. Mungkin hanya menanyakan kabar saja dan tanpa ada basa-basi. Malam itu kebetulan sekali Kara ingin pergi menemui gadisnya, karena sudah lama tidak berjumpa. Dia mengendarai motornya hendak menuju rumah Aluna. 

Sebelum itu, dia ingin mampir terlebih dahulu ke supermarket untuk membeli makanan kesukaan gadisnya itu. Membayangkan betapa bahagianya Aluna ketika mendapat banyak makanan membuat Kara senyum-senyum sendiri. Namun, ketika akan membelokkan motornya ke supermarket dia melihat Aluna sedang mengobrol dan berboncengan bersama pria yang tidak ia kenal, keduanya terlihat tertawa. 

Kara segera mengikuti mereka, dan sampailah mereka di gang rumah Aluna. Pria itu tampak sedikit berbincang dan mengusap kepala Aluna, kemudian dia tampak berpamitan dan segera pergi. Tak lama kemudian Kara segera memanggil dan menghampiri Aluna dengan tersenyum.

"Aluna!" Panggil Kara.

Jelas sekali raut wajah Aluna kebingungan dan sedikit tidak suka melihat Kara.

"Kenapa kesini?" Tanya Aluna. Ah Sial, bukan itu ucapan yang Kara ingin dengar.

"Loh, memangnya pacar sendiri gak boleh apel nih?" Tanya Kara dengan bercanda. "Eum jalan-jalan yu?" Ajak Kara.

"Aku cape. Mau istirahat" jawab Aluna.

"Yauda aku anter, sekalian aku ke rumah kamu ya." Ucap Kara.

"Gak usah. Ngapain sih? Aku kan bilang aku mau istirahat." Tanya Aluna.

"Kamu kok jadi berubah gini sih Lun? Setiap aku ajak pasti kamu banyak alasan, setiap aku chat gak pernah dibales. Kenapa sih Lun? Bosen hah?" Tanya Kara dengan sedikit emosi.

"Aku cuma cape aja Kar. Lagian udah malem gini mau kemana sih?" Tanya Aluna balik dengan nada yang sangat malas.

"Ya kita ngobrol doang, lagian kalau aku ke rumah kamu belum tentu kamu mau keluar kan? Mumpun kita udah lagi di luar kita beli es krim gimana?" Ajak Kara tersenyum bahagia dengan menaik-naikan alisnya. 

"Aku mau pulang, lain kali aja ya" tolak Aluna sembari berjalan meninggalkan Kara.

Tentunya Kara tidak tinggal diam, dia segera mengejar Aluna dan mencegahnya untuk pergi. "Ck kenapa sih Lun?" Tanya Kara. "Hey jawab jangan pergi gitu aja, kalau ada masalah kita selesaiin baik-baik" lanjutnya sembari memegang tangan Aluna.

"Apalagi Kar? Aku cape mau pulang, mau istirahat" ujar Aluna dengan mendengus nafasnya pelan. Kali ini dia benar-benar hanya ingin beristirahat bukan malah ingin berdebat.
Tangan Kara terus memegang tangan Aluna, tatapannya tak pernah terputus melihat mata Aluna. 

Kara memejamkan matanya dan menhembuskan nafasnya secara perlahan. "Kita selesaiin baik-baik ya, jangan terus menghindar" ucap Kara, kali ini suaranya lebih lembut dan tak lupa dengan senyuman yang terukir diwajahnya. "Kenapa hm?" Tanya Kara.

"Kar. Aku cape." Tegas Aluna.

"Aku juga cape Lun, kalau kita harus diem-diem gini terus. Aku juga cape harus ngejar kamu yang ngehindar terus. Kita makin jauh, aku gak mau kehilangan kamu Lun. " Ucap Kara.

"Siapa yang ngehindar sih" elak Aluna.

Kara menghela nafasnya, berusaha supaya tidak terpancing emosi. Dia mengusap lembut pipi Aluna.

"Tadi abis dari mana cantik, hm? Kok baru pulang jam segini? " Tanya Kara dengan nada yang lembut.

"Gak dari mana-mana" ucap Aluna berbohong.

"Sendirian?" Tanya Kara lagi. Aluna hanya mengangguk saja dan dia berbohong lagi, jelas-jelas Kara melihatnya tertawa dan pulang bersama pria lain. Kara hanya bisa terus menahan kesalnya, dia tidak ingin membuat gadisnya menjadi badmood. 

"Jangan bohong ya Lun." Ucap Kara sembari tersenyum. "Eum... yauda kalau gitu gimana kita beli es krim? Bentar aja yu aku kangen banget Lun" lirih Kara. 

Dan ucapan Alua tetap konsisten untuk menolak Kara, berbagai usaha yang dilakukan Kara tetap ditolak oleh Aluna. Akhirnya Kara merasa jengkel sendiri dia kembali bertanya pasal kenapa Aluna menjadi berubah seperti ini, tidak seperti Aluna yang dulu ia kenal.

"Kenapa sih Lun? Aku cape" ucap Kara.

"Cape kenapa Kara? Cape karena nemenin dia terus atau cape karena kamu jalanin hubungan ini? " Tanya Aluna. 
Nafasnya kini terdengar terengah-engah, banyak hal dalam pikiran yang ingin mulutnya bicarakan. 

"Bicara apasih Lun? Kenapa? Aku ada salah lag-" ucapan Kara terpotong oleh Aluna.

"Lagi." Ujar Aluna menatap tajam Kara. "Lagi, lagi, lagi, dan lagi Kar. Aku cape! Sampai kapan kata lagi itu terus berulang-ulang." Lanjut Aluna.

"Huft, yaudah aku minta ma-"

"Maaf? Maaf lagi kan Kar?" Potong Aluna dengan tatapan yang sangat tajam

"Ya aku tau aku salah. Tapi..." huftt, Kara menghela nafasnya. "Please don't go, Lun." Ujar Kara dengan tangan yang seakan sedang memohon. Perkataan yang keluar dari Kara membuat aluna tertawa dengan lepas.

"Hahaha... ini lucu banget sih. Aku disuruh menetap sama orang yang jadi alasan aku pergi. " Ucap Aluna diiringi tawanya. Kara menggelengkan kepalanya, ia terus mencoba untuk meyakinkan Aluna bahwa ini adalah terakhir kalinya dia meminta maaf atas perbuatannya yang sama. 

"Lun sekali ini aja aku mohon, kita perbaiki ini sama-sama ya. Aku janji ini terakhir kalinya Lun, aku gak mau kehilangan kamu." Ucap Kara terus menerus memohon. "Kasih aku kesempatan lagi ya Lun, aku perbaiki semuanya" ucap Kara yang masih terus mencoba meyakinkan Aluna.

"Tanpa sadar kamu udah kehilangan aku Kar" batin Aluna.

"Aku cape Kar. " 
Hanya kata itu saja yang terus menerus keluar dari ucapan Aluna.

"Istirahat dulu ya. Besok kita mulai dari awal lagi, aku janji semuanya akan baik-baik aja." Ucap Kara sembari tersenyum dan mengusap lembut rambut Aluna.

"Gak ada yang bakal baik-baik aja setelah semuanya kamu rusak Kar. Termasuk hubungan kita, gak bakal pernah aku masuk lagi kedalam hal yang buat aku sakit sendiri." 
Dan ya, ucapan dari Aluna berhasil membuat senyuman Kara berubah jadi datar. Dia menatap Aluna dengan isi pikiran yang terus memikirkan apakah gadis di depannya ini merasa sesakit itu atas perbuatannya? 

"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu gak pernah bahagia Luna?" Tanya Kara dengan sedikit kesal.

"Aku bahagia Kara!" Tegas Aluna. "Sebelum ada dia, sebelum kamu kasih semua waktu kamu buat dia" lanjutnya dengan tatapan yang mencoba menahan tangis. 

"Lun, aku udah bilang berapa kali dia cuma teman organisasi aku. Kita sering rapat, jadi wajar kalau aku lebih banyak luangin waktu sama dia." Ucap Kara tidak terima karena tuduhan Aluna.

Aluna tersenyum smrik.

"Bahkan saat libur pun, kamu masih bisa luangin waktu buat dia?" Tanya Aluna.

"Ya karena waktu itu dia butuh bantuan aku Lun, aku kan udah bilang sama kamu. Udah ya gak usah bawa-bawa dia lagi. Aku liat kamu sama cowo tadi, apa aku permasalahin hah? Engga kan Lun? Kamu bohong sama aku, apa aku permasalahin? Udah ya aku gak mau ribut gini terus. " Ucap Kara yang hendak mengelus rambut Aluna lagi, namun kali ini Aluna menolaknya dengan tangkisan tangan. 

"Kenapa? Kamu gak terima bahwa dia yang jadi alesan hubungan kita gini? Kamu bahkan gak tahu waktu itu aku lagi butuh kamu Kar, kamu gak pernah tau karena kamu gak pernah mau tau Kara! Bahkan kamu gak mau tau keadaan aku Kara, aku sakit aja kamu tetep lebih milih anterin dia dari pada aku kan? Apa Kar? Kamu mau mengelak apalagi? Tadi di sekolah aku minta kamu buat anter aku kan? 2 jam loh aku nunggu di sekolah, tapi kamu malah anter temen organisasi kamu itu pulang. Dan kamu malah chat aku dengan alasan dia lagi sakit?" Tanya Aluna. 

Sejenak keadaan menjadi hening.

"Aku juga lagi sakit Kara. Soal cowo itu? Dia sepupu aku. Aku cape kalau harus dibuat feeling lonely terus. Aku cape kalau harus aku terus yang ngalah buat ngertiin kegiatan kamu, aku cape kalau terus-terusan ngemis waktu sama kamu Kara. Aku cape,  kali ini bener-bener cape. Sebenarnya kita ini apa Kar?" Tanya Aluna.

Pertanyaan dari Aluna berhasil membuat Kara terdiam. Kita ini apa? Kara bingung. Apakah dirinya masih pantas dikatakan sebagai seorang pacar? Kara mulai menyalahkan dirinya sendiri, seharusnya dari dulu ia sadar bahwa perbuatannya memang akan membuat gadisnya menderita. Kara sangat kesal, bukan karena Aluna ingin mengakhiri hubungannya. Tapi karena baru sekarang dia sadar bahwa Aluna harus menderita atas perbuatannya. Dia gagal sebagai seorang kekasih untuk Aluna.

Dia semakin dilema untuk melepaskan Aluna. Jika dia mengikhlaskan Aluna, mungkin Aluna bisa bahagia dengan menemukan kebahagiaannya sendiri tapi bagaimana dengan kebahagiaan dirinya sendiri? Sedangkan semua kebahagiaannya ada pada Aluna. 

Egois. Memang Kara egois jika dia terus menahan Aluna, tapi Kara sadar dia tidak boleh membuat gadisnya semakin menderita. Dia mencintai gadis itu, dia lebih suka melihat senyuman bahagia gadis itu meski nanti orang lain yang menjadi alasan dia tersenyum. 

Malam itu menjadi malam berakhirnya penderitaan Aluna. Ucapan selamat tinggal menjadi tanda perpisahan mereka. Iya, malam itu Kara dan Aluna resmi mengakhiri hubungan mereka. 






Komentar

Postingan Populer