Ada Kalanya untuk Diam
Diam adalah kegiatan tak mengeluarkan suara sepatah katapun dari mulut seseorang. Kegiatan ini pastinya snagat pernah dilakukan oleh siapapun, baik diam karena sedang sakit atau diam karena sudah muak.
Seharian dengan isi kepala yang penuh dan mulut yang berbusa, membuat seseorang lebih memilih untuk diam sebagai obatnya.
Diam seperti apasih yang kita perlukan?
Tak sedikit orang yang menganggap diam itu sebuah ketidakpeduliaan pada seseorang, padahal kenyataannya diam itu cara terbaik ketika sedang kecewa. Orang pendiam biasanya akan menjawab pertanyaan yang sekiranya tidak akan membuat mereka ingin marah lagi.
"Ih kamu kok orangnya pendiam sih?"
"Kenapa diam aja? Ngomong dong."
"Diam terus, sifat kamu emang gitu?"
Pertanyaan-pertanyaan ini sudah tidak asing lagi jika ditanyakan kepada orang pendiam. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kita diam seperti yang orang tidak bisa bicara, padahal kenyataannya hanya sedang malas untuk berbicara.
Malas bicara?
Iya. Malas bicara. Bukan berarti tidak ingin diajak bicara, hanya saja tidak bisa mencari kata-kata. Sejujurnya banyak rasa ingin banyak bercerita namun selalu kesulitan dalam mengungkapkan perasaan, takut disalah artikan sehingga menjadi suatu kesalahfahaman.
Diam itu pilihan terbaik untuk mulai belajar bersabar. Sering dihina, diejek dan dicela oleh seseorang, namun kamu masih diam its another level of silent. Kita lebih memilih diam karena takut menyakiti seseorang, namun seseorang itu malah tidak takut menyakiti perasaan kita.
Setiap diam mempunyai kalanya tertentu, kapan kita harus diam dan berbicara itu tergantung kondisi. Jangan banyak bicara namun kosong dikepala, jangan diam ketika ada yang membenarkan sesuatu yang salah.
Dampak dari diam ini bermacam, ada yang berdampak positif dan ada yang berdampak negatif. Untuk dampak positif salah satunya, diam bisa mencegah kita dari perkataan yang membuat seseorang terluka. Sedangkan dampak negatif adalah dapat memicu stres dan pikiran yang berlebihan.
Diam tidak selamanya diam. Karena dalam diam, kita justru dapat lebih lantang bersuara, jernih mendengar, serta mendalam saat berpikir.
BalasHapusDalam diam, justru terkandung banyak energi baru yang akan melecut setelah diam yang dilakukan usai.
Saya lebih memilih diam dan menutup diri jika sedang kesal.
BalasHapusDiam belum tentu pasif. Semakin dewasa, saya jadi sadar kalau diam adalah sesuatu yang berharga, yang belum tentu semua orang bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. kadang, kita perlu diam untuk lebih seimbang menjalani hidup yang sudah kebanyakan bising dengan rentetan kata-kata yang tak semuanya perlu untuk diutarakan.
BalasHapusCocok banget sama kejadian yang baru aja terjadi, capek hati, diam aja dulu, menjauh sejenak.
BalasHapusPendiam, kadang bukannya gak mau berinteraksi sama orang lain tapi karena susah buat berkomunikasi, gak tau apa yg pengen disampaikan, akhirnya lebih baik diam sja daripada salah bicara.
BalasHapusBetul sekali, diam memang diperlukan dalam sitkon tertentu, bisa bermanfaat jika tidak ingin melukai orang lain tapi nanti kita sampaikan dengan cara yang baik jika ada apa2.
BalasHapusDalam pribahasa lebih baik diam daripada berkata yang tidak baik, itu lah dimana diam itu menjadi penahan seseorang untuk tidak berkata kasar
BalasHapusDalam pribahasa lebih baik diam daripada berkata yang tidak baik, jadi diam itu bisa menahan untuk seseorang tidak berkata kasar.
BalasHapusBerkata yang baik atau lebih baik diam. Demikian agama mengajarkan. Sekiranya dengan berkata-kata akan menjadi keburukan, maka diam adalah lebih baik
BalasHapusDampak negatif lainnya tu bksa memunculkan kesalahpahaman. Org tu sering males ngomong, ga mau clear kan masalah, tapi itu justru ntr jd bom waktu yg ngerusak semuanya.
BalasHapusDiam emng ada baiknya tapi kalau cuma sekedar biar ga menyakiti itu ga selamanya benar. Tergantung konteksnya sih.
Kalo diamnya cm karena malea ngomong, itu malah menimbulkan kesalahpahaman. Temen2ku yg sudah nikah sering ngalamin hal itu. Bahaya bgt soalnya bs jd bom waktu kalo ga cepet diselesein.
BalasHapus